Korespondensi:
Qomariyatus Sholihah, Departemen K3 IKM FK Universitas
Lambung
Mangkurat, Jl. A. Yani Km 36,3 Banjarbaru 70714 Kalimantan
Selatan,
No. Telp: 05114772747, email: qoqom_kuncoro@yahoo.co.nz
Abstrak
Penambangan
batu bara merupakan salah satu sumber pencemaran udaraberupa partikel debu batu
bara yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan bila terhirup manusia. Risiko
kerja yang sering terjadi dapat berasaldari faktor pekerjaan atau perilaku
pekerja sendiri, di antaranya sif kerja dan
masa
kerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan sif kerja, masa
kerja, dan budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) denganfungsi paru
pekerja tambang batu bara. Penelitian ini merupakan desain kasus kontrol dengan
jumlah masing-masing sampel untuk kasus dan kontrol
ebesar
178 responden. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober -
November
2014 di PT. X Kalimantan Selatan. Hasil penelitian berdasarkan
uji
kai kuadrat, didapatkan nilai p = 0,044 untuk sif kerja, 0,028 untuk masa
kerja,
dan 0,013 untuk budaya K3. Berdasarkan hasil uji regresi logistik, didapatkan
nilai p sif kerja 0,01 dengan OR = 3,934. Dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan antara sif kerja dengan fungsi paru, dan tidak terdapat hubungan
antara masa kerja dan budaya K3 dengan fungsi paru. Sif
kerja
merupakan variabel independen yang paling dominan memengaruhi
fungsi
paru.
Kata
kunci: Fungsi paru, keselamatan dan kesehatan kerja, masa kerja, sif
kerja
Abstract
Coal
mining is one source of air pollution caused in form of coal dust particle that
may interfere with health of breathing if inhaled by human.Occupational risks
often occurred may come from occupational factor orworker’s behavior itself,
ones of which are work shift and work period. Thisstudy aimed to determine
relations of work shift, work period and occupational health and safety (OHS)
culture with lung function of coal miningworker. This study was control case
design with each amount of sample forcase and control was 178 respondents. The
study was conducted onOctober – November 2014 at PT X in South Kalimantan.
Results based on
chi-square
test showed p value = 0.044 for work shift, 0.028 for working period and 0.013
for OHS culture. Based on logistic regression test results, p
value
for work shift was 0.01 with OR = 3.934. As a conclusion, there is a
relation
between work shift with lung function and no relation between working period
and OHS culture with lung function. Work shift is an independent
variable
most dominantly influencing the lung function.
Keywords:
Lung function, occupational health and safety, working period,
work
shift
Pendahuluan
Keselamatan
dan kesehatan kerja (K3) merupakan
suatu
upaya untuk menciptakan suasana bekerja yang
aman,
nyaman, dan tujuan akhirnya adalah menciptakan
produktivitas
setinggi-tingginya. K3 mutlak untuk dilaksanakan pada setiap jenis bidang
pekerjaan tanpa kecuali.
Pelaksanaan
K3 dapat mengurangi kecelakaan kerja sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan
produktivitas
kerja.1
Penambangan
batu bara merupakan salah satu sumber pencemaran udara yang dihasilkan dari
partikel debu
batu
bara. Partikel debu tersebut dapat menyebabkan
gangguan
pernapasan bila terhirup manusia. Risiko kerja yang sering terjadi dan banyak
menimbulkan kerugian
adalah
penyakit paru kerja yang timbul akibat pajanan
debu
batu bara dalam jangka waktu lama, yaitu
pnemokoniosis,
bronkitis kronis, dan asma kerja.2,3
Setiap
tahun di seluruh dunia, dua juta orang mengalami penyakit akibat kerja. Dari
jumlah tersebut, terdapat 40.000 kasus baru pneumokoniosis.4 Menurut
Analisis
Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya Keselamatan
dan
Kesehatan Kerja dengan Fungsi Paru Pekerja
Tambang
Batu Bara
Analysis
of Work Shift, Working Period, and Occupational Health and
Safety
Culture with Lung Function of Coal Mine Workers
Qomariyatus
Sholihah*, Aprizal Satria Hanafi**, Wanti***, Ahmad Alim Bachri****, Sutarto
Hadi*****
*Departemen
K3 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung
Mangkurat, Indonesia,
**Program
Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat,
Indonesia,
***Politeknik
Kesehatan Kupang, Indonesia, ****Fakultas Ekonomi, Universitas Lambung
Mangkurat, Indonesia,
*****Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia
25
International
Labor Organization (ILO) tahun 2013,2,34 juta orang meninggal setiap tahunnya
karenapenyakit akibat kerja. Di Jepang, pada tahun 2011, salahsatu penyakit
akibat kerja yang paling besar angkanyaadalah pneumokoniasis, sama halnya
dengan di Inggris.5Angka sakit di Indonesia mencapai 70% dari pekerjayang
terpapar debu tinggi. Sebagian besar penyakit paruakibat kerja memiliki akibat
yang serius, yaitu terjadinyagangguan fungsi paru dengan gejala utama yaitu
sesaknapas.6Kejadian penyakit akibat kerja tersebut diperkirakan
akibat
dari faktor ekstrinsik seperti faktor lingkungan
dan
faktor perusahaan serta faktor intrinstik seperti perilaku, sikap, dan
kedisiplinan.7 Penerapan implementasi
program
K3 akan memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap
peningkatan produktivitas kerja.8
Salah
satu faktor yang menyebabkan gangguan fungsi
paru
adalah sif kerja. Pekerja tambang batu bara memiliki waktu sif siang (pagi,
siang, sore) dan sif malam.
Permasalahan
lebih banyak terjadi pada pekerja sif
malam
karena irama faal tubuh manusia yang tidak dapat menyesuaikan kerja malam dan
tidur.9 Kerja sif
malam
merupakan sistem yang berlawanan dengan irama
sirkadian.
Kelainan pola tidur sebagai salah satu bentuk
gangguan
irama sirkadian yang dialami pekerja sif memiliki konsekuensi patologis berupa
peningkatan kadar
sitokin
proinflamasi dalam darah karena penurunan sistem kekebalan dan antioksidan
dalam tubuh.10
Penyakit
pernapasan tidak hanya disebabkan oleh
debu
saja, melainkan dari karakteristik individu seperti
masa
kerja yang terkait dengan tingkat pajanan. Masa
kerja
penting diketahui untuk melihat lamanya seseorang telah terpajan dengan debu
lingkungan. Selain itu,
kebiasaan
merokok juga merupakan salah satu kebiasaan buruk yang dapat mengganggu
kesehatan pekerja. Seorang perokok memiliki risiko kematian 20 kali
lebih
besar akibat kanker paru dibandingkan yang
bukan
perokok.11 Seseorang yang semakin lama bekerja pada tempat yang mengandung
debu, akan semakin
tinggi
risiko untuk terkena gangguan kesehatan, terutama gangguan saluran
pernapasan.12 Penelitian yang dilakukan pada pekerja tambang batu bara di
Kalimantan
Timur
tahun 2012 diperoleh sebanyak 45,1% yang
mengalami
gangguan fungsi paru obstruktif dengan
masa
kerja > 5 tahun dan 16,7% yang masa kerjanya <
5
tahun.13 Menurut Kaligis,8 implementasi program K3
akan
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
peningkatan
produktivitas kerja. Impelementasi K3
mampu
mengurangi angka kecelakaan kerja sehingga
pekerja
dapat bekerja dengan lebih baik dan mengurangi angka absensi kerja akibat
kecelakaan kerja atau
penyakit
akibat kerja.
Berdasarkan
data yang diperoleh dari audit internal
PT
X tahun 2014, kadar debu di bagian produksi mencapai 4,8 mg/m3. Sedangkan
menurut National Institute
of
Occupational Safety and Health (NIOSH) tahun 2011,
nilai
ambang batas untuk debu batu bara adalah 2
mg/m3.
Debu tersebut akan meningkatkan risiko gangguan paru pada pekerja tambang.
Semakin lama seorang
pekerja
terpajan, maka risiko gangguan paru akan semakin meningkat jika tidak disertai
dengan penerapan
K3
yang baik.14
Berdasarkan
hasil data klinik di PT X didapatkan
penyakit
pekerja adalah sesak napas, common cold, dan
flu.
Penelitian tentang kesehatan pekerja di tambang batu
bara
PT X perlu dilakukan agar dapat diketahui penyebab keluhan pekerja dan
diharapkan dapat meminimalkan penyakit akibat kerja dan tujuan akhirnya dapat
meningkatkan
produktivitas pekerja. Tujuan umum
penelitian
ini adalah untuk mengetahui hubungan sif kerja, masa kerja, dan budaya K3
dengan fungsi paru pekerja tambang batu bara di PT X.
Metode
Desain
studi yang digunakan pada penelitian ini
adalah
kasus kontrol untuk mengamati variabel dependen, yaitu gangguan fungsi paru dan
variabel independen, yaitu sif kerja, masa kerja, dan budaya K3. Pada
penelitian
ini digunakan perbandingan kasus dan kontrol
adalah
1 : 1 sehingga jumlah kontrol sebanyak 178 orang.
Maka,
jumlah sampel yang dibutuhkan pada penelitian
ini
adalah 356 orang. Sampel diambil menggunakan
teknik
simple random sampling. Sampel kelompok kasus
adalah
seluruh pekerja tambang batu bara PT X bagian
produksi
yang berjumlah 178 orang, sedangkan sampel
kelompok
kontrol adalah karyawan bagian manajemen
kantor
berjumlah 178 orang.
Instrumen
dalam penelitian ini adalah lembar isian
(data
identitas dan kuesioner) dengan disertai persetujuan menjadi subjek penelitian,
alat uji fungsi paru
(Spirometri)
merek BLT-08 Spiro Pro Meter® dan
mouthpiece,
timbangan berat badan untuk mengukur berat badan, dan meteran untuk mengukur
tinggi badan.
Pengukuran
menggunakan instrumen didampingi oleh
petugas
medis dari pihak perusahaan. Kuesioner
dibagikan
kepada responden untuk mengukur budaya K3
responden,
kemudian fungsi paru responden diukur dengan menggunakan spirometri dan
mouthpiece. Hasil
dikatakan
normal jika besar volume udara yang dikeluarkan dalam satu detik pertama ≥ 80%
dari kapasitas
fungsi
paru dan dikatakan tidak normal jika < 80% dari
kapasitas
fungsi paru. Sedangkan lembar isian digunakan
untuk
mengetahui sif kerja dan masa kerja. Data dianalisis menggunakan uji kai
kuadrat dengan alpha 95%, kemudian dilanjutkan dengan analisis regresi logistik
untuk
analisis
multivariat dengan variabel sif kerja, masa kerja,
dan
budaya K3. Penelitian ini dilakukan pada bulan
Oktober
– November 2014 di PT X.
Sholihah,
Hanafi, Wanti, Bachri, Hadi, Analisis Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya K3
dengan Fungsi Paru
Kesmas:
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10, No. 1, Agustus 2015
26
fungsi
paru pekerja tambang batu bara sif siang ada yang
mengalami
penurunan kapasitas fungsi paru di bawah nilai normal, yaitu FEV1 80%. Hal ini
sesuai dengan
penelitian
Hendryx and Melissa,15 membuktikan bahwa
risiko
tinggi pekerja tambang batu bara terhadap terjadinya inflamasi yang menyebabkan
risiko gangguan
fungsi
paru. Dibuktikan oleh penelitian Sari Mumuya,16
pada
tahun 2006 terhadap 299 laki-laki pekerja tambang
batu
bara sif siang di Tanzania dengan nilai p = 0,04 (nilai p < 0,05)
menunjukkan bahwa risiko bekerja di daerah pertambangan batu bara dapat menurunkan
nilai
FEV1%
80.
Berdasarkan
data yang diperoleh, terdapat nilai kapasitas fungsi paru pekerja tambang batu
bara sif malam
mengalami
penurunan dibandingkan sif siang. Penurunan
kapasitas
fungsi paru lebih banyak ditemukan pada
pekerja
tambang batu bara sif malam. Sif malam menunjukkan penurunan FEV1%, Vmax50,
Vmax25 lebih besar dibandingkan dengan sif pagi dan sif siang. Menurut
Zheng,10
sif malam merupakan sistem yang berlawanan
dengan
ritme sirkadian. Kelainan pola tidur sebagai salah
satu
bentuk gangguan ritme sirkadian yang dialami
pekerja
sif memiliki konsekuensi patologis berupa peningkatan kadar sitokin
proinflamasi dalam darah karena penurunan sistem kekebalan dan antioksidan
dalam
tubuh.
Hal ini didukung oleh penelitian Sholihah,17
Hasil
Hasil
distribusi sif kerja, masa kerja, budaya K3 dan
fungsi
paru pada pekerja tambang di PT X sinergi pada
Tabel
1. Tabel 1 memaparkan hasil berdasarkan analisis
univariat
untuk mendapatkan distribusi fekuensi dari
masing-masing
variabel independen (sif kerja, masa kerja, dan budaya K3) dan variabel
dependen (gangguan
fungsi
paru). Hasil penelitian menunjukkan kasus fungsi
paru
tidak normal sebesar 57,9% meliputi obstruktif, restruktif maupun keduanya.
Tabel
2 menunjukkan hubungan antarvariabel independen dengan variabel dependen.
Seluruh variabel
meliputi
sif dan masa kerja, serta budaya 3 memiliki
hubungan
yang bermakna secara statistik dengan nilai p
<
0,05. Variabel bebas yang berhubungan dengan variabel terikat (variabel sif
kerja, masa kerja, dan budaya
K3)
bersama dimasukkan dalam perhitungan uji regresi
logistik
metode Enter. Sif kerja merupakan variabel bebas yang berpengaruh paling
dominan dengan fungsi
paru
(Tabel 3).
Pembahasan
Hasil
penelitian dengan menggunakan uji kai kuadrat
menunjukkan
terdapat hubungan antara sif kerja dan
fungsi
paru pekerja tambang batu bara dikarenakan nilai
p
< 0,05. Dalam penelitian ini, terdapat bahwa kapasitas
Tabel
1. Distribusi Frekuensi Kasus dan Kontrol Berdasarkan Variabel Independen
Variabel
Kategori Kasus Kontrol Total
Sif
kerja Siang 98 (55,1%) 141 (79,2%) 239 (67,1%)
Malam
80 (44,9%) 37 (20,8%) 117 (32,9%)
Masa
kerja <5 Tahun 118 (66,3%) 43 (24,2%) 161 (45,2%)
≥5
Tahun 60 (33,7%) 135 (75,8%) 195 (54,8%)
Budaya
K3 Positif 108 (60,1%) 172 (96,6%) 280 (78,7%)
Negatif
70 (39,9%) 6 (3,4%) 76 (21,3%)
Fungsi
paru Normal 75 (42,1%) 163 (91,6%) 238 (66,9%)
Tidak
normal (obstruktif, 103 (57,9%) 15 (8,4%) 118 (33,1%)
restruktif,
campuran)
Tabel
2. Analisis Bivariat Variabel Independen dengan Fungsi Paru
Variabel
Kategori Kasus Kontrol Total OR 95% CI Nilai p
Sif
kerja Siang 98 (55,1%) 141 (79,2%) 239 (67,1%) 6,326 0,044
Malam
80 (44,9%) 37 (20,8%) 117 (32,9%) 1,829-21,001
Masa
kerja < 5 Tahun 118 (66,3%) 43 (24,2%) 161 (45,2%) 4,82 0,028
≥
5 Tahun 60 (33,7%) 135 (75,8%) 195 (54,8%) 1,743-13,239
Budaya
K3 Positif 108 (60,1%) 172 (96,6%) 280 (78,7%) 5,532 0,013
Negatif
70 (39,9%) 6 (3,4%) 76 (21,3%)
Tabel
3. Hasil Uji Multivariat Fungsi Paru
95%
CI for EXP (B)
Variabel
Bebas B Wald Sig Exp (B)
Lower
Upper
Sif
kerja 1,360 7,074 0,01 3,934 1,453 2,864
Masa
kerja 0,893 2,899 0,076 2,454 0,786 7,567
Budaya
K3 1,006 6,655 0,081 2,675 0,965 6,654
27
membuktikan
bahwa dinding alveoli tikus wistar yang
dikondisikan
sif malam mengalami penebalan lebih signifikan dibandingkan sif siang.
Penurunan kapasitas
fungsi
paru dapat disebabkan kondisi fisik individu
pekerja
yang meliputi mekanisme pertahanan paru,
anatomi
dan fisiologi saluran pernapasan serta faktor
imunologis.18
Dibuktikan oleh penelitian Siyoum,19 pada tahun 2014 di Etiopia dengan nilai p
= 0,001 yang
menjelaskan
bahwa gejala gangguan fungsi paru terjadi
lebih
banyak pada pekerja sif malam dibandingkan dengan sif lainnya.
Hasil
penelitian dengan menggunakan uji kai kuadrat
menunjukkan
bahwa terdapat hubungan antara masa
kerja
dan fungsi paru pekerja tambang batu bara, dikarenakan nilai p > 0,05.
Penelitian ini tidak sejalan dengan
penelitian
Puspita dkk,20 mengenai pengaruh paparan
debu
batu bara terhadap gangguan faal paru. Hasil analisis faktor risikonya menunjukkan
bahwa masa kerja tidak
memiliki
hubungan terhadap kejadian gangguan faal
paru.
Dalam penelitian Baharuddin dkk,21 masa kerja 2
-
7 tahun dan 8 - 13 tahun juga tidak memiliki hubungan
dengan
gangguan fungsi paru, baru pada masa kerja 14 -
20
tahun mulai terdapat hubungan dengan gangguan
fungsi
paru. Beberapa penelitian melaporkan bahwa di
negara
yang telah memiliki nilai ambang batas debu,
pneumokoniosis
pada penambang batu bara biasanya
terjadi
pada individu yang telah bekerja selama > 10
tahun
atau paling sedikit 5 - 10 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat bukti yang
signifikan antara masa
kerja
dengan fungsi paru. Jika masa kerja berhubungan,
diperlukan
waktu paparan yang cukup lama untuk dapat
menimbulkan
kelainan pada faal paru. Jumlah total suatu
zat
yang diabsorsi di paru-paru bukan hanya tergantung
pada
lamanya seseorang terpapar dengan debu saja, namun perlu diperhitungkan
sifat-sifat kimia dan fisik dari
debu
itu sendiri yang terhirup oleh pekerja.22
Penurunan
fungsi paru tidak hanya disebabkan oleh
faktor
pekerjaan maupun lingkungan kerja, tetapi juga
terdapat
sejumlah faktor nonpekerjaan yang dapat menjadi faktor yang memengaruhi maupun
menjadi variabel
pengganggu.
Hal-hal yang dapat memengaruhi seperti
usia,
jenis kelamin, kelompok etnis, tinggi badan, kebiasaan merokok, suhu
lingkungan, penggunaan alat pelindung diri, metode pengolahan serta jumlah jam
kerja/jam
giliran
kerja (sif kerja).23
Faktor
lain dalam penelitian ini yang menyebabkan
masa
kerja menjadi tidak berhubungan dengan fungsi
paru
adalah kadar debu. Pada penelitian ini, kadar debu
batu
bara merupakan faktor pengganggu yang tidak dapat dikendalikan karena setiap
hari semua pekerja tambang batu bara di bagian produksi berkontak langsung
dengan
debu batu bara.
Hasil
penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan
antara
budaya K3 dan fungsi paru pekerja tambang batu
bara
dikarenakan nilai p > 0,05. Penelitian ini sesuai dengan penelitian
terdahulu yang dilakukan oleh Duma
dkk,1
yang mendesain modul menuju selamat sehat sebagai metode dan media penyuluhan
K3 yang efektif
meningkatkan
pengetahuan, sikap dan perilaku K3 (budaya K3) serta tenaga kerja inovatif
dalam pengendalian
gangguan
kesehatan. Hasil penelitian menyatakan penyuluhan K3 dalam penerapannya selama
satu tahun efektif
meningkatkan
pengetahuan dan sikap budaya K3, namun belum efektif meningkatkan kesehatan
pekerja.
Berdasarkan
hasil observasi di PT X, Rantau, Kalimantan
Selatan,
nilai ambang batas debu tidak diketahui.
Manajemen
perusahaan tambang batu bara hanya menyatakan secara lisan bahwa nilai ambang
batas debu dalam
keadaan
normal.24 Kadar debu lebih dari 350 mg/m3
udara/hari
(OR = 2,8; 95% CI = 1,8 - 9,9) merupakan
salah
satu faktor intrinsik yang terbukti berhubungan
dengan
penurunan kapasitas paru.6
Berdasarkan
kepustakaan, debu yang berukuran antara 5 - 10 mikron bila terhisap akan
tertahan dan tertimbun pada saluran napas bagian atas, yang berukuran
antara
3 - 5 mikron tertahan atau tertimbun pada saluran
napas
tengah. Partikel debu dengan ukuran 1 - 3 mikron
disebut
debu respirabel merupakan yang paling berbahaya karena tertahan atau tertimbun
mulai dari bronkiolus terminalis sampai alveoli.25
Kesimpulan
Hasil
penelitian menunjukkan terdapat hubungan sif
kerja,
masa kerja, dan budaya K3 dengan fungsi paru
pekerja
tambang batu bara PT X di Kalimantan Selatan.
Daftar
Pustaka
1.
Duma K, Husodo AH, Soebijanto, Maurits LS. Modul menuju selamat
sehat:
inovasi penyuluhan kesehatan dan kesehatan kerja dalam
pengendalian
kelelahan kerja. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.
2011;
14 (4): 213-23.
2.
Rikmiarif DE, Pawenang ET, Cahyati WH. Hubungan pemakaian alat
pelindung
pernafasan dengan tingkat kapasistas vital paru. Unnes
Journal
of Public Health. 2012; 1 (1): 12-7.
3.
Hermanus MA. Occupational health and safety in mining–status, New
developments,
and concerns. The Journal of the Southern African
Institute
of Mining and Metalurgy. 2007; 107: 531-8.
4.
Susanto AD. Pnemokoniosis: artikel pengembangan pendidikan keprofesian
berkelanjutan. Journal of Indonesian Medical Association. 2011;
61:
503-10.
5.
ILO [homepage in internet]. The prevention of occupational diseases.
World
day for safety and health at work. 2013 [cited 2014 Dec 5].
Available
from: http://www.ilo.org/safework/events/meetings/
WCMS_204594/lang—en/index.htm
6.
Meita AC. Hubungan paparan debu dengan kapasitas vital paru pada
pekerja
penyapu Pasar Johar Kota Semarang. Jurnal Kesehatan
Masyarakat.
2012; 1 (2): 654-62.
7.
Susilowati IH, Syaaf RZ, Satrya C, Hendra, Baiduri. Pekerjaan, nonSholihah,
Hanafi, Wanti, Bachri, Hadi, Analisis Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya K3
dengan Fungsi Paru
Kesmas:
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10, No. 1, Agustus 2015
28
Occupational
Medicine. 2007; 36 (2): 299-306.
17.
Sholihah Q. Melatonin lowers levels of SOD and number of inflammatory cells BAL
wistar strain mice wearing mask PPE, sub acute exposed
by
coal dust day and night. Journal Applied Environment Biological
Science.
2012; 2 (12): 652-7.
18.
Raju AE, Hansi K, Sayaad R. A Study on pulmonary function tests in
coal
mine workers in Khammam District India. International Journal
Physioter
Respiratory Research. 2014; 2 (3): 502-6.
19.
Siyoum K, Alemu K, Kifle M. Respiratory symptoms and associated factors among
cement workers and civil servants in North Shoa, Oromia
Regional
State, North West Ethiopia: Comarative Cross Sectional Study.
Journal
Health Affairs. 2014; 2: 74-8.
20.
Puspita CG. Paparan debu batubara terhadap gangguan faal paru pada
pekerja
kontrak bagian coal handling PT. PJB Unit Pembangkit Paiton
[skripsi].
Jember: Bagian Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan
Keselamatan
Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember;
2011.
21.
Baharudin S, Roestam AW, Yunus F, Ikhsan M, Kekalih A. Analisis hasil
spirometri
karyawan PT. X yang terpapar debu di area penambangan
dan
pemrosesan nikel. Jakarta: Departemen Pilmonologi dan Ilmu kedokteran Respirasi
Fakulta Kedokteran Universitas Indonesia; 2010.
22.
Komendong DJWM, Ratu JAM, Kawatu PAT. Hubungan antara lama paparan dengan
kapasitas paru tenaga kerja industri mebel di CV. Sinar
Mandiri
Kota Bitung. Jurnal Kesmas Universitas Sam Ratulangi. 2012;
1
(1): 5-10.
23.
Kurniawidjaja LM. Program perlindungan kesehatan respirasi di tempat
kerja
manajemen risiko penyakit paru akibat kerja. Jurnal Respirologi
Indonesia.
2010; 30 (4); 217-29.
24.
PT. Hasnur Riung Sinerga. Profil dan gambaran men power di PT.
Hasnur
Riung Sinergi Site BRE. Rantau, Kalimantan Selatan: PT Hasnur
Riung
Sinergi; 2014.
25.
Sholihah Q, Ratna S, Laily K. Pajanan debu batubara dan gangguan pernafasan
pada pekerja lapangan tambang batubara. Jurnal Kesehatan
Lingkungan.
2008; 4 (2): 291-311.
pekerjaan,
dan psikologi sebagai penyebab kelelahan operator alat Berat
di
industri pertambangan batubara. Kesmas: Jurnal Kesehatan
Masyarakat
Nasional. 2013; 8 (2): 91-6.
8.
Kaligis RSV, Sompie BF, Tjakra J, Walangitan DRO. Pengaruh implementasi program
keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap produktivitas kerja. Jurnal Sipil
Statik. 2013; 1 (3) : 219-25.
9.
Siyoum K, Alemu K, Kifle M. Respiratory symptoms and associated factors among
cement workers and civil servants In North Shoa, Oromia
regional
state, North West Ethiopia: comarative cross sectional study.
Journal
Health Affairs. 2014; 2 (4): 74 - 8.
10.
Zheng H, Patel M, Hryniewicz K, Katz SD. Association of extended shift
work,
vascular fuction and inflammatory markers in internal medicine
resident:
a randomized control trial. JAMA. 2006; 296 (9): 1049-54.
11.
Kandung RPB. Hubungan antara karakteristik pekerja dan pemakaian
alat
pelindung pernapasan (masker) dengan kapasitas fungsi paru pada
pekerja
wanita bagian pengempelasan di Industri Mebel “X” Wonogiri.
Jurnal
Kesehatan Masyarakat. 2013; 2 (1).
12.
Putra DP, Rahmatullah P, Novitasari A. Hubungan usia, lama kerja, dan
kebiasaan
merokok dengan fungsi paru pada juru parkir di Jalan
Pandanaran
Semarang. Jurnal Kedokteran Muhammadiyah. 2012; 1 (3):
7-12.
13.
Cahyana A. Faktor yang berhubungan dengan kejadian gangguan fungsi
paru
pada pekerja tambang batubara PT. Indominco Mandiri
Kalimantan
Timur Tahun 2012 [research article]. Makassar: Bagian
Kesehatan
dan Keselamatan Kerja FKM Universitas Hasanuddin, 2012.
14.
National Institute for Occupational Safety and Health . Coal mine dust
exposures
and associated health outcomes. NIOSH [online]; 2011 [cited 2015 Jan 4].
Available from: www.cdc.gov/niosh/docs/2011-
172/pdfs/2011-172.pdf.
15.
Hendryx M, Melissa M. Relations between health indicators and residential
proximity to coal mining in West Virginia. American Journal of
Public
Health. 2008; 98 (4): 668-71.
16.
Mumuya SHD, Bratveit M, Mashalla YJ, Moen BE. Airflow limitation
Tidak ada komentar:
Posting Komentar